Jakarta, produsernews.com — Sejak 1942, sebagai penguasa baru Hindia Belanda, Jepang banyak menyingkirkan berbagai hal yang berbau Belanda.
Penggunaan bahasa Belanda dilarang, mengganti nama beberapa ruas jalan, membongkar sejumlah patung, dan lain-lain.

Suasana peresmian patung Gubernur Jenderal Belanda, Jan Pieterszoon Coen, di Lapangan Singa, Batavia pada 29 Mei 1869. (Foto: Wikimedia Commons)
Sebagai contoh, Jalan van Heutz diganti menjadi Jalan Imamura, lalu setelah Indonesia merdeka diganti lagi menjadi Jalan Teuku Umar.
Sementara pembongkaran patung salah satunya terjadi di Lapangan Banteng yang dulu disebut Waterlooplein.
Di sana berdiri tegak patung Jan Pieterszoon Coen, mantan Gubernur Jenderal VOC.

Lukisan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen. ( foto : Wikimedia Commons)
Selain di tanah kelahirannya Hoorn, Belanda, ada lagi patung Jan Pieterszoen Coen di Batavia.
JP coen atau Mur Jangkung, nama panggilannya oleh orang Jawa adaGedung itu dirancang oleh Letkol Shultze dan mencakup bangunan utama besar dengan sayap di setiap sisinya untuk kantor gubernur jenderal.
Untuk mengenang Jan Pieterzoon Coen, pemerintah kolonial Belanda membangun patungnya pada 1869. Tahun itu bertepatan dengan 250 tahun usia kota Batavia.
Patung didirikan oleh Gubernur Jenderal Pieter Mijer (1866-1872). Patung Coen yang berdiri dengan angkuh sambil menunjuk jari telunjuknya dengan mottonya yang terkenal: Dispereet Niet (“pantang berputus asa”).
Setelah berdiri selama 74 tahun di depan Gedung Putih, yang kini menjadi kantor Menko Perekonomian.
Di lapangan Banteng, patung dari tembaga ini pun digusur dan dihancurkan. Patung itu lenyap pada 7 Maret 1943 saat pendudukan Jepang.
“Untuk menghapus bekas-bekas kolonial Belanda, saat itu semua yang berbau Belanda dihancurkan, termasuk patung JP Coen,” kata sejarawan JJ Rizal
Jika patung JP Coen sudah lenyap, Gedung Kementerian Koordinator Perekonomian atau yang dulu dipanggil Gedung Daendels masih berdiri kokoh meski telah berumur lebih dari 200 tahun.
Gedung itu dirancang oleh Letkol Shultze dan mencakup bangunan utama besar dengan sayap di setiap sisinya untuk kantor gubernur jenderal.
Sedangkan kantor -kantor pemerintah harus berada pada bangunan terpisah. Juga ada rumah tamu dan kandang untuk 120 kuda.
Dikutip dari Ensiklopedia Jakarta, rencana pembangunan Istana Daendels tak pernah terwujud.
Pada masa pemerintahan Janssens (1811) hanya dipasang atap sederhana. Pada masa Raffles, pembangunan tidak dilanjutkan
Barulah pada tahun 1828 diresmikan menjadi kantor pemerintah Hindia Belanda oleh Gubernur Jenderal Du Bus.
Tahun 1835, menjadi Kantor Pos dan Percetakan Negara dan pada 1848 menjadi kantor Departemen Kehakiman.
Telah berumur ratusan tahun, keseharian gedung ini tidak hanya menjadi tempat kerja manusia tetapi menyisakan banyak cerita tak wajar.
Berdasarkan penuturan Sophian seorang yang telah bekerja sejak tahun 1980, gedung itu kerap membuat orang merinding dengan penampakan mahluk halus yang suka menjelma menjadi petugas kebersihan.
“Ada petugas cleaning service di sini bernama Ali. Sempat dia terlihat bolak-balik saja, waktu dipanggil tidak menengok. Tetapi ternyata setelah tidak berapa lama ditemukan Ali yang asli sedang tidur di ruang sebelah,” tuturnya
Sophian atau yang kerap dipanggil ‘Babe’ ini mengatakan tidak ada perubahan pada keadaan gedung Kemenko Perekonomian ini, hanya saja patung Coen telah berganti menjadi tiang bendera saat ini.
Di belakang patung tersebut dahulu juga terdapat terowongan menuju gedung kesenian. Namun, terowongan itu dahulu sering dilewati para noni Belanda saat ini telah ditutup.
jokolelono

