
Jakarta – Forum Betawi Rempug (FBR) menyongsong usia ke-25 tahun dengan menegaskan transformasi organisasi dari kelompok yang kerap mendapat stigma negatif menjadi pilar kebudayaan masyarakat Betawi.
Dalam perjalanannya sejak berdiri pada 2001, FBR mengakui sempat menghadapi berbagai gesekan horizontal yang membentuk persepsi publik. Namun, organisasi itu menyebut kini fokus pada jalur kebudayaan, pendidikan, dan advokasi sosial.
Ketua Umum FBR KH Lutfi Hakim mengatakan organisasi saat ini terus bergerak menyesuaikan tantangan zaman, terutama dalam memperjuangkan hak masyarakat Betawi di tengah perubahan Jakarta menjadi kota global.
“FBR hari ini tidak lagi bertumpu pada pendekatan fisik, tetapi mendorong penguatan pendidikan, teknologi, dan kebijakan publik,” kata Lutfi dalam keterangan tertulis, Senin (20/4/2026).
Salah satu capaian yang disorot adalah masuknya frasa “lembaga adat” dalam Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta (UU DKJ). FBR bersama elemen masyarakat Betawi disebut ikut mendorong pengakuan formal terhadap eksistensi adat Betawi.
Selain itu, FBR juga menjalankan sejumlah program berbasis masyarakat seperti Jaga Kampung, pengajian rutin, serta pelestarian Golok Cakung sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB).
Menurut Lutfi, memasuki usia perak, tantangan terbesar FBR adalah regenerasi. Organisasi ingin melahirkan generasi muda Betawi yang mampu menguasai teknologi, namun tetap menjaga nilai budaya dan sanad perjuangan ulama.
“Regenerasi menjadi keharusan agar Betawi tetap menjadi tuan rumah di tanah sendiri,” ujarnya.
FBR menilai usia 25 tahun bukan sekadar momentum perayaan, tetapi refleksi untuk memperkuat peran sosial, menjaga harmoni masyarakat, dan memastikan identitas Betawi tetap terjaga di tengah modernisasi Jakarta.(feri santoro)

