DENPASAR – Gemerlap dunia fesyen berpadu dengan kekayaan budaya Bali dalam pergelaran busana karya desainer Indonesia, Meggie Hadiyanto, di Pulau Serangan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar, Jumat (31/7/2026).
Melalui tema “Turunnya Para Dewi di Pulau Dewata”, Meggie menghadirkan delapan figur dewi dan sosok Srikandi dalam rangkaian Soft Opening Sira Village. Koleksi tersebut tidak sekadar menawarkan keindahan busana, tetapi juga membawa pesan tentang kekuatan perempuan, kemakmuran, pengetahuan, kasih sayang, hingga keseimbangan kehidupan.
Sebanyak delapan figur menjadi sumber inspirasi koleksi Meggie, yakni Dewi Lakshmi, Dewi Saraswati, Dewi Sri, Dewi Danu, Dewi Durga, Bhatari Melanting, Dewi Ratih, dan Madame Orient Pearl.
Masing-masing karakter diterjemahkan Meggie melalui rancangan busana bernuansa etnik yang sarat simbol dan filosofi. Keberagaman karakter tersebut kemudian berpadu dengan sosok Srikandi yang merepresentasikan perempuan Bali yang kuat, mandiri, berdedikasi, serta tetap memegang teguh nilai-nilai tradisi.
Dewi Lakshmi, misalnya, menjadi simbol kemakmuran, kekayaan material dan spiritual, keberuntungan, serta kecantikan. Sementara Dewi Saraswati merepresentasikan pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan.
Kemudian ada Dewi Sri yang lekat dengan simbol kesuburan dan kemakmuran serta memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat agraris. Dewi Danu menjadi representasi air dan danau sebagai sumber kehidupan, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar Danau Batur.
Sementara Dewi Durga ditampilkan sebagai simbol perlindungan, keberanian, dan kekuatan. Bhatari Melanting merepresentasikan kemakmuran serta harapan akan kelancaran usaha dan perlindungan bagi para pedagang.
Adapun Dewi Ratih menjadi simbol kecantikan dan cinta kasih. Sedangkan Madame Orient Pearl digambarkan sebagai sosok perempuan yang memadukan karakter baik hati, berani, bijaksana, penuh kasih sayang, peduli, serta mampu memberikan energi positif.
Di antara para dewi tersebut, sosok Srikandi menjadi gambaran perempuan Bali masa kini. Perempuan yang tetap menjaga warisan leluhur, tetapi pada saat yang sama mampu beradaptasi dan mengambil peran dalam kehidupan modern.
Bagi Meggie, busana merupakan salah satu medium untuk menyampaikan cerita. Melalui karya yang ditampilkan, nilai-nilai budaya tidak hanya hadir sebagai ornamen, tetapi juga menjadi bagian penting dari pesan yang ingin disampaikan kepada publik.
Kiprah Meggie dalam mengangkat budaya melalui fesyen bukan kali pertama dilakukan. Pada 2017, ia juga membawa karya bernuansa Indonesia ke panggung New York Fashion Week.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Meggie dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui industri fesyen kepada khalayak yang lebih luas.
Kali ini, Bali dipilih sebagai panggung untuk menghidupkan kembali kisah tentang para dewi melalui bahasa fesyen.
Konsep tersebut sekaligus menjadi doa dan harapan Meggie bagi Sira Village yang baru diperkenalkan kepada publik. Ia berharap kawasan tersebut dapat menjadi tempat yang dipenuhi energi positif, kemakmuran, keberuntungan, serta keseimbangan antara kesejahteraan material dan spiritual.
Pergelaran itu pun memperlihatkan bagaimana fesyen dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. Di tangan Meggie Hadiyanto, kisah tentang perempuan, budaya, dan filosofi Bali diterjemahkan menjadi karya yang tidak hanya sedap dipandang, tetapi juga memiliki cerita di balik setiap tampilannya.(edy)

