Penulis : Fery Santoro /jurnalis produsernews.com
Jateng, produsernews.com –– Tidak mudah menjadi seorang jurnalis, karena harus siap ditugaskan diberbagai lokasi kejadian, baik bencana alam, daerah konflik dan daerah perang , bila sang jurnalis di tugaskan di daerah konflik nyawa taruhan nya.
News RCTI salah satu Televisi Swasta Menugaskan Reporter Ersa Siregar dan Juru Kamera Fery Santoro untuk meliput konflik TNI dan GAM 20 Tahun silam tepat nya tahun 2003.

Selama 325 Hari saya bersama rekan disandra oleh GAM, jelas fery santoro.
Tugas didaerah bencana atau konflik ada suatu kebanggaan sebagai seorang jurnalis, tugas pertama kali di aceh sangat senang karena baru pertama kali saya bertugas kedaerah Aceh yang dikenal sebagai serambi Mekkah, namun perasan takut pasti ada, karena Aceh sedang bergejolak, setelah mendapat support dari keluarga serta istri saya berangkat ke Aceh untuk meliput bersama tim karena ini pengalaman yang tidak dipatkan dilain tempat, jelas fery
Seminggu sudah saya liputan dibanda Aceh dan selalu ber patner denganreporter senior RCTI Ersya Siregar, liputan terakhir kami mengarah ke daerah Langsa untuk meliput pengungsian dan pos TNI AL di Langsa.
Dalam perjalanan pulang menuju loekshoemawe ada perasaan kurang tenang dalam hati, karena jalan provinsi (jalan hitam) sunyi tanpa ada kendaraan lain yang melintas .
Saat mobil kami melintasi hutan kelapa sawit dengan kecepatan 80 Km / perjam tiba-tiba kami dihadang oleh sekelompok orang bersenjata.
sssss…..ttt Rahmad Syah sopir RCTI tiba-tiba mengerem mendadak Ya Allah ada apa ini,
Pintu mobil kami dibuka secara paksa dan sopir suruh turun diambil alih kemudi nya. Penghadang kami ada 6 orang masuk semua kemobil sambil todong pistol.
” semua tundukan kepala !! ‘ kata mereka ‘ hati saya bercampur aduk antara rasa takut dan mati karena saat nunduk itu pistol diarahkan ke kepala saya.
Saya berpikir jangan-jangan ini GAM (gerakan Aceh merdeka) saya dan bang Ersa serta yang lain nya dibawah di tengah kampung . kamu dari mana!!! saya dari Jawa jawabku sambil lemas badan..
“Wah Jawa, besok pagi mati nih, Kompeni nih.” Kata salah satu anggota GAM
“Pasti Pai ( TNI ) itu. Mata-mata tentara,” teriak anggota GAM lainnya.
Mendengar ancaman itu, saya mengaku pasrah. Berbekal kamera besar di tangan, para anggota GAM yang menyandra kami pun percaya kalau saya wartawan.
Panglima Perang GAM saat itu, Teuku Ishak Daud meminta bawahannya untuk merawat dan menjaga keselamatan dua wartawan itu. Mendengar itu, Ersa dan saya mengaku lega. Tapi, hidup dalam penyanderaannya baru dimulai.
“Kami selalu pindah-pindah demi hindari kejaran TNI. Kalau dirasa tidak aman, kami harus lewati semak, sebrangi sungai dan hutan belantara,” tuturnya.fery santoro
Selain tidur beralaskan tikar, saya sempat merebahkan bersama macan kumbang di sampingnya beruntung, hewan buas ini tidak menyerang.
“Bahkan orang GAM nawarin tidur di atas alas ular, Sempat bergidik sih, tapi dia bilang jangan takut, ternyata tidak apa-apa,” jelas fery.
Sejumlah LSM, organisasi pers hingga palang merah internasional meminta agar keduanya dibebaskan. Hampir setahun lamanya, negosiasi pembebasan antara pemerintah Indonesia dan GAM selalu mengalami deadlock, hingga akhirnya menemui kesepakatan.

Melalui siaran radio lokal, saya mengaku senang karena dia dan kawannya segera menghirup udara bebas. Sebuah impian untuk kembali berkumpul bersama istri dan anak pun mengalir deras dalam pikirannya. Tapi, mimpi itu kembali tertunda.
Malam hari menjelang tewasnya Ersa, beberapa anggota GAM memutuskan turun gunung. mereka meninggalkan empat pucuk senjata, Bahkan menawari kami dan bang ersa memegang senapan tersebut, tapi kami tolak. Fery Santora berujar “Kalau saya bisa gunakan senjata, pasti kami sudah tembak kalian,” canda saya saat itu.
Sepeninggal mereka, saya hanya dijaga seorang anggota GAM, Bang ersya dan seorang pria berusia lebih tua darinya memilih beristirahat di dalam gubuk.
Entah dari mana “Tiba-tiba ada tembakan, Dar der dor, retetan tembakan dari semak-semak. Orang GAM yang sedang memasak di luar tewas kena tembakan,” kenangku
Tanpa pikir panjang,saya mencari cara untuk menyelamatkan diri dari desingan peluru. Saya lompat kedaerah yang lebih rendah untuk berlindung menghindari tembakan yang mengarah ke kaki. Di tengah ketakutannya, saya masih berupaya menyelamatkan rekan saya, namun gagal.
“Ada tembakan di atas saya. Saya lompat, masuk ke semak, semua semak didaerah ini berduri hingga badan saya penuh luka dan berdarah,”
Selamat dari serangan itu dan memilih bermalam di sebuah tempat diatas bukit, saya bertemu seorang pria yang bersama bang ersa di dalam gubuk saat penyerangan orang bersenjata. Rekan saya ersa tak kunjung datang.
“Selama empat hari empat malam, saya jalan mencari perkampungan harus lewati empat sungai, ngarai dan hutan .”
Kami tiba diperkampung penduduk , bukan TNI yang kami temui, tapi anggota GAM lainnya, kembali saya menjadi sandera. Menurut salah salah satu anggota mengatakan, rekannya telah tewas.
“Lemas badan saya, saya bingung mau sama siapa lagi? Bang ersa sudah meninggal, tidak ada lagi teman saya,”
Jelang malam tahun baru 2004, saya akhirnya dibebaskan berkat upaya diplomasi yang dilakukan organisasi pers dan palang merah internasional.

Pengalaman mendebarkan itu terus terkenang di dalam hatinya sampai saat ini
redaksi

