
CIREBON — Arus kendaraan yang mulai ramai di Jalur Pantura Cirebon membawa harapan bagi para pedagang musiman di sepanjang jalan tersebut. Di antara debu jalanan dan deru mesin kendaraan, mereka menggantungkan rezeki dari para pemudik yang melintas.
Nurhayati, warga Sunyaragi, menjadi salah satu yang memanfaatkan momen tahunan ini. Ia membuka lapak sederhana di pinggir Jalan Arteri Pantura setiap musim mudik Lebaran tiba.
Berjualan di lokasi itu bukanlah pekerjaan sehari-hari bagi Nurhayati, yang biasa disapa Nur. Ia hanya hadir ketika arus mudik mulai mengalir, saat ribuan kendaraan melintasi jalur Pantura menuju berbagai daerah di Jawa.
“Momentum saja. Kalau lagi mudik baru jualan di sini,” ujar Santi, Selasa (17/3/2026).
Memasuki H-3 Lebaran, Nur mulai merasakan geliat pembeli, meski belum seramai yang ia harapkan. Ia menyebut, peningkatan jumlah pembeli baru terasa dalam beberapa hari terakhir seiring bertambahnya volume kendaraan.
“Sudah ada yang beli, lumayan. Tapi memang belum terlalu ramai,” katanya.
Bagi Nurhayati, pengalaman berjualan di musim mudik membuatnya paham ritme keramaian. Ia memperkirakan puncak penjualan akan terjadi pada H-3 Lebaran hingga malam takbiran, saat arus pemudik mencapai titik tertinggi.
Pada periode itu, lapaknya nyaris tak pernah sepi. Ia bahkan bisa meraup pendapatan hingga sekitar Rp1,5 juta dalam sehari—jumlah yang cukup besar dibanding hari biasa.
Tak hanya itu, Nurhayati tetap bertahan berjualan hingga Hari Lebaran. Ia memanfaatkan arus kendaraan yang masih ramai, baik pemudik yang belum tiba di tujuan maupun warga yang melakukan perjalanan silaturahmi.
“Biasanya sampai malam Lebaran juga masih ramai. Kadang hari Lebaran juga masih buka,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus mudik, lapak-lapak sederhana seperti milik Nur menjadi bagian dari warna perjalanan para pemudik. Sementara bagi Nur, momen ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan berharga untuk menambah penghasilan bagi keluarga.(faisal jasdi)

