
CIREBON — Deru kendaraan memenuhi Jalan Arteri Cirebon pada Senin (16/3/2026). Di antara arus pemudik yang melaju menuju kampung halaman, sebuah sepeda motor dengan barang bawaan yang ditumpuk rapi di bagian belakang menarik perhatian.
Pada barang bawaannya tertempel secarik tulisan sederhana:
“Sing pan nyapa klakson bae ping 2. Aku ora kagetan tapi ngantukan. Tangerang–Brebes.”
Tulisan berbahasa Jawa itu berarti, siapa pun yang melihatnya dipersilakan membunyikan klakson dua kali untuk menyapa sekaligus mengingatkan pengendara agar tetap terjaga.
Pengendara motor tersebut adalah Sudarmono, warga Tangerang yang sedang dalam perjalanan mudik menuju Brebes, Jawa Tengah. Cara unik itu ia lakukan untuk berjaga-jaga jika rasa kantuk datang di tengah perjalanan panjang.
“Yang mau menyapa klakson saja dua kali. Saya nggak gampang kaget, tapi gampang ngantuk,” ujar Sudarmono sambil tersenyum saat ditemui di sela perjalanan.
Bagi Sudarmono, mudik dengan sepeda motor bukanlah hal baru. Ia mengaku sudah beberapa kali menempuh perjalanan jauh menggunakan kendaraan roda dua untuk pulang ke kampung halaman.
Namun, perjalanan kali ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya ia membawa anak kecil dalam perjalanan mudik yang jaraknya ratusan kilometer itu.
“Kalau naik motor sebenarnya sudah sering, cuma kalau bawa anak kecil baru pertama kali ini,” katanya.
Sudarmono memiliki alasan tersendiri mengapa tetap memilih sepeda motor sebagai moda transportasi mudik. Selain lebih fleksibel, ia juga ingin memiliki kendaraan yang bisa digunakan selama berada di kampung halaman.
Menurutnya, kendaraan yang tersedia di rumah biasanya dipakai bersama oleh anggota keluarga lainnya.
“Di kampung memang ada motor, tapi kalau dipakai bareng-bareng biasanya rebutan. Jadi mau nggak mau bawa motor sendiri,” ujarnya.
Perjalanan panjang itu tentu tidak selalu mudah. Membawa anak kecil membuat Sudarmono harus lebih sering berhenti untuk beristirahat agar kondisi sang anak tetap nyaman.
Ia dan keluarganya berangkat dari Tangerang sekitar pukul 05.30 WIB. Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 jam, mereka akhirnya tiba di wilayah Cirebon.
“Dari Tangerang sampai sini macetnya cuma di Kalimalang karena berpapasan sama jam berangkat kerja,” kata Sudarmono.
Meski perjalanan terasa melelahkan, semangat Sudarmono untuk mudik dengan sepeda motor tampaknya tak surut.
Baginya, perjalanan panjang itu justru menjadi bagian dari cerita mudik yang selalu dinanti setiap tahun.
“Capek sih, tapi sudah biasa. Tahun depan mungkin mudik naik motor lagi,” ujarnya sambil kembali bersiap melanjutkan perjalanan menuju Brebes.(gelael)

