
Sore belum sepenuhnya turun ketika aroma santan dan gula merah mulai menyeruak di sudut Kota Tangerang. Di antara deretan pedagang takjil yang sibuk menata dagangan, seorang perempuan paruh baya tampak telaten mengaduk bubur sum-sum di atas kompor kecil. Dialah Ibu Mimin, 56 tahun, yang setiap Ramadan setia menjajakan takjil sederhana demi menyambung hidup keluarganya.
Dengan celemek lusuh dan senyum ramah, Ibu Mimin menyendok bubur putih lembut ke dalam mangkuk-mangkuk plastik. Tangannya bergerak cepat, namun penuh kehati-hatian. “Biar rapi, pembeli senang,” ucapnya pelan, sembari merapikan gula aren cair yang dituangkan di atasnya.
Bubur sum-sum buatannya bukan sekadar kudapan berbuka. Bagi Ibu Mimin, itu adalah harapan yang terus diaduk setiap hari. Sejak sang suami meninggal tiga tahun lalu, ia menjadi tulang punggung keluarga. Dari hasil berjualan takjil inilah kebutuhan dapur, listrik, hingga biaya sekolah cucunya terpenuhi.
Setiap hari selama Ramadan, ia sudah bangun sejak subuh. Beras digiling, santan diperas, gula merah direbus sendiri. Semua dikerjakan di dapur kecil rumah kontrakannya. “Kalau bikin sendiri rasanya lebih enak, pembeli juga balik lagi,” katanya sambil tersenyum.
Menjelang pukul empat sore, gerobak sederhananya mulai didorong ke tepi jalan. Ia memilih lokasi yang sama setiap tahun, tepat di bawah rindang pohon, tak jauh dari lalu-lalang warga yang pulang kerja. Beberapa pelanggan bahkan sudah hafal. Ada yang memanggil namanya, ada pula yang langsung memesan tanpa bertanya harga.
“Seperti langganan ya, Bu. Ramadan belum lengkap kalau belum beli bubur Ibu,” ujar seorang pembeli. Kalimat-kalimat kecil semacam itu membuatnya bertahan, meski lelah sering kali datang lebih cepat.
Bagi Ibu Mimin, Ramadan bukan hanya soal mencari keuntungan. Ia percaya ada berkah di setiap mangkuk bubur yang terjual. Kadang ia memberi tambahan porsi untuk anak kecil atau pelanggan yang kekurangan uang. “Yang penting sama-sama bisa berbuka,” tuturnya.
Senja kian merona, azan magrib segera berkumandang. Dagangannya nyaris habis. Wajah Ibu Mimin terlihat lega. Uang hasil penjualan disimpan rapi di dompet kain, cukup untuk kebutuhan esok hari. Baginya, rezeki hari itu sudah lebih dari cukup.
Di tengah hiruk-pikuk pedagang musiman Ramadan, kisah Ibu Mimin menjadi potret keteguhan seorang ibu. Dari bubur sum-sum yang hangat, ia merawat kenangan, menyimpan doa, dan menyalakan harapan—bahwa esok, kompor kecilnya akan kembali menyala, dan berkah kembali datang menyapa.

