JAKARTA BARAT — Upaya menekan angka stunting terus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Kodim 0503/Jakarta Barat bersama Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat dan PT Cimory menjalankan program intervensi gizi yang menyasar 400 balita.
Program yang dimulai sejak 23 Juli 2026 itu berlangsung selama tiga bulan. Intervensi dilakukan melalui pemberian susu dan telur kepada balita sasaran, dengan distribusi melibatkan Babinsa, pihak kelurahan, kader Posyandu, serta tenaga kesehatan.
Dari total 400 balita, sebanyak 200 balita berada di wilayah Koramil 02/Tambora, meliputi Kelurahan Pekojan dan Kalianyar. Sementara 200 balita lainnya berada di wilayah Koramil 04/Cengkareng, khususnya Kelurahan Kapuk.
Pelaksanaan program dilakukan secara langsung hingga ke lingkungan warga. Babinsa mengambil bantuan telur dari Makodim 0503/Jakarta Barat, kemudian makanan tersebut dimasak di tingkat kelurahan sebelum diantarkan kepada keluarga penerima manfaat.
Pola distribusi tersebut membuat program tidak berhenti pada pemberian bantuan makanan. Babinsa bersama staf kelurahan dan kader Posyandu juga dapat berinteraksi langsung dengan keluarga, sekaligus mengetahui kondisi penerima manfaat di lapangan.
Sementara itu, kader Puskesmas melakukan pencatatan dan pemantauan secara berkala. Data penerima manfaat diperbarui untuk melihat perkembangan kondisi anak sekaligus menjadi bahan evaluasi program.
Analis Kebijakan Muda Bagian Kesra Setko Administrasi Jakarta Barat, Hj. Endang, mengatakan program tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara Kodim 0503/Jakarta Barat, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat dan PT Cimory.
“Program ini merupakan kerja sama antara Kodim 0503 Jakarta Barat, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat, dan PT Cimory,” ujar Endang.
Kapolkes Kodim 0503/Jakarta Barat, dr. Mona, mengatakan intervensi tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesehatan dan kualitas tumbuh kembang anak.
“Kegiatan ini menekan angka gizi buruk, meningkatkan kesehatan dan kecerdasan balita, sekaligus menjadi bukti nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat,” katanya.
Keterlibatan Babinsa menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Personel TNI yang berada di wilayah binaan membantu memastikan distribusi bantuan berjalan hingga ke tingkat keluarga penerima manfaat.
Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat koordinasi antara aparat kewilayahan, kelurahan, kader Posyandu dan tenaga kesehatan. Berbagai kondisi di lapangan dapat lebih cepat diketahui dan ditindaklanjuti.
Selain pemberian intervensi, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat bersama Puskesmas juga melakukan pemetaan wilayah yang memiliki kerawanan persoalan gizi atau red zone.
Pemetaan menjadi penting untuk menentukan wilayah prioritas sekaligus memastikan intervensi diberikan secara tepat sasaran berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Program selama tiga bulan ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mencegah stunting.
Pemantauan pertumbuhan anak, pemeriksaan kesehatan, pemenuhan kebutuhan gizi, serta edukasi kepada keluarga tetap menjadi faktor penting setelah program intervensi selesai.
Kolaborasi TNI AD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader masyarakat dan sektor swasta pun diharapkan terus diperkuat. Sebab, penanganan stunting bukan hanya soal pemberian makanan, melainkan memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.
Bagi 400 balita yang menjadi sasaran, program tersebut bukan sekadar bantuan, melainkan bagian dari ikhtiar bersama menghadirkan generasi Jakarta Barat.(ismail)

