
Tangerang – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, jasa penukaran uang musiman mulai bermunculan di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto, tepatnya di depan kawasan CBD Ciledug, Kota Tangerang. Sejumlah lapak terlihat berjajar menawarkan berbagai pecahan uang kepada masyarakat yang melintas, Minggu (7/3/2026).
Pantauan jurnalis Produsernews.com di lokasi menunjukkan sedikitnya 25 lapak jasa penukaran uang berdiri di pinggir jalan. Para penyedia jasa menawarkan berbagai pecahan uang mulai dari Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000 hingga Rp1.000 yang umumnya dibutuhkan masyarakat untuk tradisi berbagi saat Lebaran.
Salah satu penyedia jasa penukaran uang, Ibu Nainggolan, mengatakan kegiatan tersebut bukanlah pekerjaan utamanya. Ia mengaku hanya membuka lapak setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri karena tingginya permintaan masyarakat.
“Ini bukan pekerjaan utama saya. Biasanya saya buka usaha katering pesanan. Jasa penukaran uang ini hanya musiman saja, biasanya mulai menjelang Lebaran,” ujar Nainggolan saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, omzet dari jasa penukaran uang bisa cukup besar, terutama ketika Lebaran semakin dekat. Bahkan pada masa ramai, nilai uang yang ditukarkan dalam sehari bisa mencapai puluhan juta rupiah.“Kalau sudah mendekati hari Lebaran, bisa sampai Rp30 juta uang yang ditukar dalam sehari,” katanya.
Ia menjelaskan sistem keuntungan yang diterapkan relatif sama untuk hampir semua pecahan uang. Untuk setiap Rp100.000 uang yang ditukar, masyarakat harus membayar sekitar Rp115.000.
“Semua hampir sama, baik pecahan Rp20 ribu, Rp10 ribu, Rp5 ribu dan Rp2 ribu. Kalau pecahan Rp1.000 biasanya Rp100 ribu jadi Rp120 ribu,” jelasnya.
Meski lapak penukaran uang sudah mulai beroperasi, aktivitas penukaran saat ini masih tergolong belum terlalu ramai. Salah satu penyedia jasa lainnya, Ucok, menyebut lonjakan permintaan biasanya terjadi sekitar dua minggu menjelang Lebaran.
“Biasanya kalau sudah mendekati Lebaran, sekitar 14 hari sebelumnya, baru mulai ramai. Orang-orang mulai datang untuk menukar uang,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu warga yang memanfaatkan jasa penukaran uang tersebut adalah Marni. Ia menukarkan uang pecahan Rp2.000 dan Rp5.000 dengan total Rp500.000 untuk dibawa pulang ke kampung halamannya di Wonogiri.“Saya mau pulang ke Wonogiri hari ini. Anak saya yang sekolah SD sudah libur, jadi pulang lebih dulu,” katanya.
Marni menambahkan, suaminya belum dapat ikut pulang karena masih bekerja dan belum mendapatkan cuti.“Suami saya nanti menyusul menjelang H-3 Lebaran setelah libur bersama,” jelasnya.
Bagi Marni, menukarkan uang baru sudah menjadi tradisi keluarga setiap Lebaran. Uang tersebut nantinya akan dibagikan kepada keponakan dan anak-anak di kampung halaman saat momen silaturahmi Idul Fitri.“Setiap Lebaran pasti tukar uang untuk dibagikan ke sanak saudara di kampung,” ujarnya.
Tradisi berbagi uang baru saat Lebaran memang masih kuat di tengah masyarakat. Hal ini membuat jasa penukaran uang musiman selalu bermunculan setiap tahun, terutama di titik-titik keramaian seperti kawasan Jalan HOS Cokroaminoto, CBD Ciledug, guna memudahkan masyarakat memperoleh uang pecahan kecil tanpa harus mengantre di lembaga perbankan.(gelael)

