
TANGERANG — Aroma harum mentega berpadu dengan manisnya selai nanas menyambut siapa saja yang memasuki kawasan Jalan Haji Unus (Gaji Unus), Gang Merpati 1 & 2, RT 005/RW 001, Kelurahan Larangan Utara, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang, Banten, jelang Lebaran. Deretan rumah warga di kampung ini berubah menjadi dapur-dapur kecil yang sibuk memproduksi kue kering khas hari raya.
Wilayah yang dikenal sebagai Kampung Nastar ini memang menjadi sentra kuliner rumahan dengan nastar sebagai primadona. Kue bertekstur lembut dengan isian nanas legit itu tak hanya menjadi sajian wajib di meja tamu saat Lebaran, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga.
Di salah satu rumah produksi, tampak adonan nastar dibentuk rapi sebelum dipanggang hingga berwarna keemasan. Prosesnya masih dilakukan secara manual untuk menjaga cita rasa khas yang sudah diwariskan turun-temurun.
Salah satu pelaku usaha,Kartini, mengaku telah menekuni bisnis kue kering sejak akhir 1990-an. Berawal dari kebutuhan ekonomi keluarga, kini usahanya berkembang pesat dengan produksi ratusan toples setiap hari, terutama saat Ramadan.
Saat ditemui jurnalis Produsernews.com, Wenny, Kartini menceritakan perjalanan usahanya yang penuh proses.
“Awalnya coba-coba dari resep sederhana, lama-lama banyak yang suka. Sekarang kalau Ramadan bisa produksi ratusan toples per hari,” ujarnya sambil menunjukkan deretan nastar yang baru keluar dari oven.
Tak hanya nastar, warga Kampung Nastar juga memproduksi berbagai kue kering lain seperti kastengel yang gurih dan putri salju yang manis lembut. Meski begitu, nastar tetap menjadi favorit pelanggan karena cita rasanya yang khas dan konsisten.
Permintaan yang terus meningkat membuat sebagian pelaku usaha bahkan harus menutup pesanan lebih awal demi menjaga kualitas produksi. Banyak pelanggan rela memesan jauh-jauh hari agar tidak kehabisan.
Lurah Larangan Utara, Iwan Bambang Subekti, menjelaskan bahwa usaha ini awalnya hanya dijalankan oleh satu warga, sebelum akhirnya berkembang menjadi sentra UMKM yang melibatkan banyak keluarga.
Kini, Kampung Nastar tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mulai menembus pasar yang lebih luas, bahkan hingga ke luar negeri. Industri rumahan ini pun menjadi roda penggerak ekonomi warga sekaligus memperkuat identitas kuliner khas daerah.
Dengan cita rasa yang terus dijaga dan semangat gotong royong warga, Kampung Nastar diharapkan dapat terus berkembang sebagai destinasi kuliner unggulan, khususnya saat momentum Lebaran tiba.(wenni)

