
Kota Tangerang – Di tengah perayaan hari jadi kota, suasana haru dan bahagia menyelimuti halaman pusat pemerintahan saat ratusan pasangan duduk berdampingan, menanti momen sakral mereka dirayakan bersama. Pemerintah menghadirkan ruang kebahagiaan kolektif melalui resepsi pernikahan massal bertajuk Tangerang Ngebesan 2026.
Program yang digelar oleh Kota Tangerang ini menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-33. Sebanyak 106 pasangan dari beragam usia, latar belakang sosial, dan agama difasilitasi untuk mengikuti resepsi setelah melalui sidang isbat nikah serta pencatatan perkawinan resmi.
Wali Kota Tangerang, Sachrudin, menyebut kegiatan tersebut sebagai wujud kehadiran pemerintah dalam memastikan setiap warganya memperoleh pengakuan hukum sekaligus momen perayaan yang layak. Dari total peserta, 97 pasangan beragama Islam dan 9 pasangan non-muslim.
Prosesi dipusatkan di Plaza Pusat Pemerintahan Kota Tangerang yang disulap menjadi arena resepsi terbuka. Deretan pelaminan berdiri rapi, sementara para pengantin tampil menawan bak raja dan ratu sehari dengan balutan busana adat.
Ragam budaya turut mewarnai perhelatan. Ada sentuhan Betawi, Sunda, Jawa, hingga Tionghoa, lengkap dengan aksesori khas masing-masing. Latar pelaminan pun disesuaikan dengan busana, menghadirkan nuansa tradisional yang berpadu dengan kemeriahan modern.
Kemeriahan semakin terasa saat tradisi Palang Pintu Betawi ditampilkan. Atraksi silat dan adu pantun jawara mengundang tepuk tangan pengunjung, menegaskan bahwa kemajuan kota tetap berjalan berdampingan dengan pelestarian tradisi.
Menurut Sachrudin, Tangerang Ngebesan bukan sekadar resepsi pernikahan. Kegiatan ini, katanya, adalah simbol kebersamaan sekaligus identitas budaya. Pemerintah ingin setiap pasangan merasakan kebahagiaan yang sama, tanpa memandang latar belakang.
Tak hanya prosesi inti, para pengantin juga diperbolehkan mengundang keluarga dan kerabat. Kehangatan terasa ketika tamu, pejabat, dan pegawai pemerintah datang bersalaman, berfoto, serta memberikan ucapan selamat secara langsung.
Bagi Owen dan Mishel, pasangan penganut Konghucu, pengalaman tersebut menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Mereka mengaku bangga dapat menjadi bagian dari perayaan lintas budaya yang sarat kebersamaan, seraya berharap kota ini terus tumbuh harmonis bagi semua warganya.(ismail)

