
Petani sarang burung walet mendesak pemerintah hadir sebagai fasilitator untuk mengatasi anjloknya ekspor ke pasar internasional.
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN), Benny Suryo Sabath Hutapea, mengatakan lebih dari satu juta petani walet di seluruh Indonesia terdampak langsung oleh penurunan harga dan hambatan regulasi dari Tiongkok.
Menurut Benny, Indonesia merupakan penghasil terbesar sarang burung walet di dunia dengan produksi mencapai 1.900 ton per tahun pada 2023.
Namun, ekspor Indonesia kini tertekan akibat kebijakan baru General Administration of Customs China (GACC) yang menetapkan parameter kandungan aluminium <100 mg/kg.
Aturan tersebut, kata Benny, tidak pernah tercantum dalam nota kesepahaman impor antara Indonesia dan Tiongkok.
Dampak dari perubahan standar itu, ekspor sarang walet Indonesia ke Tiongkok turun sekitar 250 ton per tahun atau setara Rp5 triliun (USD309 juta).
Padahal, 78 persen ekspor walet Indonesia bergantung pada pasar Tiongkok. “Penurunan ini membuat petani kesulitan menyalurkan hasil panen, sehingga pendapatan masyarakat di daerah terpukul keras,” ujar Benny
Selain petani, puluhan ribu pekerja pabrik pengolahan sarang walet juga terkena pemutusan hubungan kerja akibat sanksi dari GACC terhadap sejumlah perusahaan Indonesia. Rantai pasok hingga UMKM yang terkait industri walet ikut merasakan dampak lesunya ekspor.
Benny menambahkan, jika situasi ini berlarut, Indonesia berisiko hanya menjadi pengekspor bahan mentah yang selanjutnya diolah dan dijual dengan label “Made in China”. “Nilai tambah, lapangan kerja, serta citra produk walet sebagai kebanggaan nasional bisa hilang,” katanya.
Karena itu, PPSWN berharap pemerintah hadir sebagai fasilitator sekaligus “bapak asuh” bagi petani walet. Menurutnya, peran pemerintah sangat penting untuk menstabilkan harga, memperjuangkan kepastian regulasi ekspor, serta mendorong hilirisasi produk sesuai arahan Presiden Prabowo.
“Kalau produksi industri sarang burung walet berjalan dengan baik, mulai dari pembibitan hingga pemasaran, maka akan banyak menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan negara dari ekspor,” tutup Benny.(FRJ)


