Bengkulu, produsernews.com — Molek adalah kereta mini peninggalan zaman penjajahan yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menyerupai oplet digunakan untuk sarana transportasi darat. Molek ( motor lori ekspres).

Molek digerakan dengan mesin diesel yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk memutar roda lori yang dihubungkan dengan rantai berukuran besar, molek dapat mengangkut 12 penumpang serta barang bawanya.
Transportasi molek ini bisa ditemukan di Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara.
Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat, Jiun, pada tahun 1997, lori peninggalan penjajah yang selama ini digunakan warga diubah menjadi molek.

Molek diciptakan oleh Wan Tanggang, warga asli Lebong Tandai, hal tersebut ditandai dengan pemasangan mesin diesel 10 PK. “Molek menggunakan mesin diesel, itu setelah adanya inovasi dari Wan Tanggang,” ujar Jiun.
Jiun menjelaskan, molek memiliki empat roda besi dengan ukuran jarak masing-masing sumbu roda lebih kurang 1,25 meter, serta panjang badan lebih kurang 6 meter dan lebar sekitar 1,5 meter.

Pengoperasian molek dikemudikan oleh seorang masinis yang fungsinya mengatur kecepatan mesin diesel. Fungsi pengemudi juga hampir sama seperti seorang masinis kereta api yang mengatur kelancaran jalannya kereta.
Molek dapat menempuh kecepantan berkisar 10-15 kilometer per jam. dalam mesin molek juga dipasangi bak kopling dari mobil suzuki futura atau bak mobil zebra.
Molek memiliki 6 percepatan persneling, termasuk satu mundur. molek ada juga dilengkapi setir, gas injak yang dimodifikasi, dan rem prodo.
“Molek itu sama seperti mobil, ada setirnya, gas, rem. hanya saja, semua itu dimodifikasi oleh warga untuk menggerakkan molek,” kata Jiun.
Molek akan melayani trayek sepanjang 35 kilometer Jalur yang dilewati molek (Air Tenang-Lebong Tandai) dengan waktu tempuh rata-rata selama lebih kurang 4,5 jam.
Bila karena ada tanah longsor atau banjir menyebabkan rel molek yang terputus, perjalanan bisa lebih lama yang seharusnya 4,5 jam menjadi 6 jam atau mungkin kembali kestasiun pemberangkatan
Jadwal keberangkatan Molek biasanya pagi pukul 07.00 wib, dimulai dari Stasiun Air Tenang menuju Stasiun Ronggeng, tak banyak molek yang beroperasi.
Molek akan melayani rute Air Tenang menuju Stasiun Ronggeng bila sudah pesanan terlebih dahulu.
Pengguna Molek biasanya datang dari masyarakat Lebong Tandai yang ingin keluar desa untuk membeli kebutuhan pangan.
Penumpang dikenai harga tiket sebesar Rp 25.000 per orang, di luar barang bawaan. Itu pun biayanya sampai di Stasiun Ronggeng saja.
Bila ingin menaiki molek sampai tujuan Sumpit, warga juga dikenai biaya yang sama, Tiket satu kali perjalanan dari Air Tenang ke Lebong Tandai, mencapai Rp 100.000 per orang.
Sejarah molek sebagai tranportasi kereta mini , di desa penghasil emas ini terdapat sebuah jalur lori dan dilengkapi kereta mini yang sangat terkenal pada zaman penjajahan kolonial Belanda, dibangun pada tahun 1940 berjarak 35 kilometer dari pusat Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara.
Rel lori masih terlihat sampai sekarang. Menurut Jiun, lori masih beroperasi sekitar tahun 1947. rel lori dipakai untuk mengangkat emas zaman penjajahan dari Desa Air Tenang hingga Desa Lebong Tandai.
Jalur tranportasi lori ini dibangun bangsa Belanda pada tahun 1904. namun, setelah Indonesia merdeka pada 1945, Belanda pun meninggalkan Desa Lebong Tandai tahun 1947
“Pembangunan jalur lori tersebut melibatkan warga asli Lebong Tandai, dengan sistem kerja paksa,” kata Jiun .
Jalur bersejarah dan unik peninggalan Hindia Belanda, kata Jiun, dibuka kembali oleh warga asli setempat pada tahun 1948, untuk menuju ke pusat kecamatan, serta memasok bahan pangan.
Sebelum dimodifikasi lori menggunakan mesin disel, warga menggunakan lori kodok. kereta kecil yang digerakan dengan tenaga manusia dengan cara didorong dan pengereman menggunakan kayu.
“Setelah Belanda meninggalkan Lebong Tandai, lori milik Belanda masih digunakan warga. Sebagai sarana transportasi menuju ke pusat kecamatan serta untuk mengangkut bahan pangan serta hasil penambangan emas,” kata Jiun.
Eva

