Jakarta, produsernews.com – Berpuasa di bulan Ramadan sesungguhnya menjadi kewajiban yang harus dijalankan oleh umat Muslim setelah memasuki usia pubertas. Alasan inilah yang kemudian membuat banyak orangtua mulai mengajarkan anak untuk berpuasa sejak dini agar terbiasa di usia dewasa.
Mengajarkan atau membiasakan anak berpuasa seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua, mengingat pada usia dini anak masih sulit menahan rasa lapar dan haus, serta membutuhkan kebutuhan gizi yang harus selalu terjaga agar tetap sehat.
Berpuasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta segala sesuatu yang membatalkannya, mulai dari matahari terbit hingga terbenam. Di Indonesia, waktu untuk berpuasa berkisar antara 12 hingga 13 jam.
(Dikutip dari : Websitehttps://fk.ui.ac.id/berita/melatih-anak-berpuasa-sejak-dini-tetap-penuhi-kebutuhan-gizi.html Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).
Secara umum untuk anak berusia dini dan juga untuk semua kalangan.
Apa yang terjadi saat kita berpuasa?
Pada kondisi puasa, kadar gula darah dari makanan yang dikonsumsi saat sahur dapat menetap hingga 4 jam, dan setelah itu tubuh akan mengambil dan memecah cadangan lain dari hati.
Dalam 16 jam sejak makan terakhir, tubuh juga akan memecah lemak dan protein agar proses metabolisme dapat dipertahankan.
Oleh karena itu, berpuasa selama 12 jam tidak akan mengganggu fungsi tubuh mengingat pada akhirnya tubuh dapat beradaptasi dengan cara menggunakan cadangan-cadangan nutrisi lainnya serta memperlambat sistem metabolisme.
Menurut pakar nutrisi dan penyakit metabolik dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, dr. Titis Prawitasari, SpA(K), banyak penelitian yang menunjukkan bahwa perubahan metabolisme tubuh akibat berpuasa ini berefek sehat.
“Pada waktu berpuasa, metabolisme tubuh cenderung melambat, tetapi menjadi lebih efisien. Insulin yang berguna untuk memasukkan gula yang dihasilkan dari makanan yang kita konsumsi pun menjadi lebih sensitif,” jelas dr. Titis dikutip dari situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Lebih jauh dr. Titis pun mengatakan bahwa, “Puasa juga terbukti dapat menurunkan tingkat stress oksidatif dan inflamasi yang akan mencederai sel dalam tubuh sehingga secara tidak langsung turut mencegah terjadinya kanker, meningkatkan kerja sistem imun, serta mencegah terjadinya penuaan dini.”
Itu sebabnya, selain untuk menjaga tubuh agar tetap sehat, melatih anak berpuasa juga baik untuk perkembangan psikis mereka. “Puasa sangat baik digunakan sebagai sarana pembelajaran bagi anak-anak dalam mengendalikan diri dan disiplin,” tambah dr. Titis.
Apa saja tips lain melatih anak agar lancar berpuasa?
Walaupun kebutuhan gizi yang lengkap sudah tercukupi pada saat sahur dan berbuka, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa menahan makan dan minum selama 12 hingga 13 jam memang bukanlah hal mudah bagi anak yang belum terbiasa berpuasa. Peningkatan waktu berpuasa secara bertahap dapat dilakukan untuk melatih ketahanan anak. “Dapat dicoba untuk mulai dengan puasa tidak penuh (6-8 jam) dahulu dan perlahan ditingkatkan menjadi berpuasa hingga adzan Maghrib tiba,” saran dr. Titis.
Selain tidak kuat menahan rasa lapar dan haus, kesulitan untuk bangun sahur merupakan tantangan lain yang seringkali dihadapi orang tua saat melatih anak berpuasa. Masalah ini dapat diatasi dengan cara membiasakan pola tidur anak.
“Hal ini umumnya hanya terjadi pada masa awal bulan puasa. Kesulitan ini berangsur-angsur menghilang seiring terbiasanya anak dengan jadwal yang ada,” ungkap dr. Titis.
Agar anak tetap termotivasi dan semangat untuk makan sahur dan berbuka puasa, variasi menu makanan baik dalam bentuk, rasa, maupun bahan dasar juga penting untuk diperhatikan. Diharapkan selain kebutuhan gizi tercukupi, anak juga tidak merasa jenuh dalam menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadan.
redaksi

