KOTA TANGERANG — Semangat pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan berpadu dalam aksi bersih-bersih bantaran Sungai Cisadane yang digelar Perkumpulan Boen Tek Bio Kota Tangerang, Senin (15/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Perayaan Peh Cun 2577/2026 sekaligus wujud nyata komitmen masyarakat Tionghoa Benteng dalam menjaga warisan budaya dan alam.
Sejak pagi, sekitar 250 peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, relawan, pemuda, serta pengurus yayasan Boen Tek Bio turun langsung membersihkan area bantaran sungai. Berbekal alat kebersihan dan kantong sampah, mereka mengumpulkan sampah plastik, daun kering, serta limbah yang terbawa arus Sungai Cisadane.
Ketua Umum Perkumpulan Boen Tek Bio, Dr. Romo Ruby Santamoko, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar aksi sosial, melainkan bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Menurutnya, Sungai Cisadane memiliki hubungan historis yang erat dengan tradisi Peh Cun yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Tionghoa Benteng di Tangerang.
Ia menjelaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya diwujudkan melalui ritual dan perayaan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan tersebut dinilai penting untuk membangun karakter, semangat gotong royong, serta rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan warisan budaya daerah.
Selain aspek lingkungan, kegiatan ini juga mencerminkan nilai kebersamaan dan toleransi yang selama ini dijaga Boen Tek Bio. Perayaan budaya, menurut Romo Ruby, harus menjadi ruang yang mempererat persaudaraan serta memperkuat harmoni di tengah keberagaman masyarakat Kota Tangerang.
Ketua Panitia Peh Cun 2026, Merry, menambahkan bahwa aksi bersih Sungai Cisadane merupakan simbol penghormatan terhadap alam sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Ia menilai sungai tersebut merupakan aset penting yang perlu dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
Meski lomba perahu naga belum dapat diselenggarakan tahun ini karena pembangunan fasilitas penyimpanan perahu, seluruh prosesi utama Peh Cun tetap berlangsung. Berbagai ritual budaya dan keagamaan seperti pembacaan Paritta, pembacaan Keng dan Piaw Bun, ritual memandikan perahu, tradisi mendirikan telur, hingga lempar bacang tetap menjadi bagian dari perayaan.
Rangkaian Peh Cun 2026 telah dimulai sejak 12 Juni melalui kegiatan Lepas Ancak dan akan mencapai puncaknya pada 19 Juni 2026. Selain ritual tradisional, panitia juga menghadirkan hiburan rakyat seperti lomba karaoke dan pertunjukan Gambang Kromong untuk melibatkan masyarakat lebih luas.
Antusiasme warga terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Kehadiran masyarakat yang menyaksikan sekaligus memberikan dukungan menunjukkan bahwa Perayaan Peh Cun tidak hanya menjadi milik komunitas tertentu, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari kekayaan budaya Kota Tangerang.
Melalui aksi sederhana membersihkan bantaran sungai, Perkumpulan Boen Tek Bio mengirimkan pesan bahwa menjaga lingkungan dan melestarikan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dari tepian Cisadane, nilai gotong royong, toleransi, dan kepedulian sosial terus diwariskan kepada generasi penerus.(ismail)

