
JAKARTA — Lonjakan harga kantong plastik membuat para pedagang di Pasar Pondok Labu harus menghadapi penurunan penjualan. Kondisi ini berdampak langsung pada lesunya aktivitas jual beli di pasar tersebut.
Kenaikan harga plastik diketahui dipicu oleh melonjaknya harga bahan baku nafta, yakni turunan minyak bumi, yang meningkat hingga sekitar 45 persen dalam sebulan terakhir. Kenaikan ini turut dipengaruhi tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Salah satu pedagang plastik, Mamat, mengungkapkan harga plastik sudah merangkak naik sejak lebih dari sebulan terakhir. Meski demikian, ia tetap bertahan berjualan karena menjadi sumber penghasilan utama.
“Kenaikan sudah terasa sejak seminggu sebelum puasa, sekitar Rp2 ribu sampai Rp4 ribu per kilogram untuk plastik kecil seperti kemasan es,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Ia menambahkan, hampir seluruh jenis kemasan mengalami kenaikan harga. Untuk plastik hitam, misalnya, harga yang semula Rp10 ribu per pak kini melonjak menjadi Rp15 ribu. Sementara plastik bening polos bahkan mengalami kenaikan hingga lebih dari dua kali lipat.
Menurutnya, lonjakan harga ini sangat memukul daya beli konsumen. Penurunan penjualan disebutnya bisa mencapai hingga 100 persen, sebanding dengan kenaikan harga yang terjadi.
“Dampaknya besar sekali, pembeli jadi berkurang drastis. Kenaikan harga juga cepat, bahkan bisa berubah setiap saat,” keluhnya.
Mamat berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga, agar pedagang dan pembeli tidak terus dirugikan oleh kondisi ini.
Pantauan di lokasi menunjukkan, kios miliknya terlihat lengang. Beberapa calon pembeli yang sempat datang pun memilih membatalkan transaksi setelah mengetahui harga plastik yang sudah melonjak.(wenni)

